About Coffee

Potensi Besar Dari Bubuk Hitam

Ini seharusnya bisa menjadi kabar gembira buat seluruh kalangan eksportir kopi di Indonesia. Simak saja penuturan Suyanto Hussein. Menurut Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Sumatera Utara, itu selama tahun ini harga kopi jenis Arabika di pasar internasional diprediksi bisa menembus US$ 3,5 per kilogram dari saat ini yang hanya sebesar US$ 3 per kilogram. Membaiknya harga tersebut, kata Suyanto, disebabkan oleh adanya penurunan produksi dari produsen utama kopi dunia, terutama Brasil dan Vietnam. Pada 2006, lanjut dia, produksi kopi dari Brasil mencapai 45 juta karung—dimana setiap karung beratnya mencapai 60 kilogram. Namun, di tahun ini pasokan kopi dari Negeri Samba itu diperkirakan hanya mencapai sebanyak 35-38 juta karung.
Begitu pula dengan Vietnam. Pada tahun lalu, produksi kopi di Negeri Gajah Putih itu mencapai 800-900 juta ton. Tapi, di tahun ini produksinya diperkirakan akan mengalami penurunan. “Dengan menurunnya pasokan ditengah permintaan yang terus meningkat akan mendorong harga jual kopi, khususnya jenis arabika,” tutur Suyanto. Ia menambahkan, kekurangan pasokan dari Brasil dan Vietnam, juga bisa menjadi sebuah peluang bagi produsen kopi dunia lainnya—terutama Indonesia—untuk mendapatkan keuntungan yang lebih baik dari harga ekspor kopi arabika yang meningkat.
Harga kopi arabika di pasar internasional memang jauh lebih baik ketimbang kopi jenis robusta. April lalu, misalnya, harga kopi robusta di pasar internasional hanya berkisar US$ 1,60 per kilogram hingga US$ 1,65 per kilogram. Sementara harga kopi arabika sudah berada pada kisaran US$ 3-US$ 3,1 per kilogram. Itu artinya, harga kopi robusta hanya separuh dari harga jual kopi arabika. Nah, jika eksportir kopi nasional bisa menutupi pasokan kopi arabika di pasar dunia yang saat ini tengah menipis, jelas hal itu akan membawa berkah tersendiri.
Namun begitu, persoalannya sekarang, seberapa besar peluang Indonesia meraih kesempatan emas tersebut? Di sinilah dilemanya. Betul, selain penghasil kopi robusta, Indonesia juga menghasilkan kopi arabika. Tapi masalahnya, negeri ini hanya mampu memproduksi kopi arabika tak lebih dari 15% dari seluruh total produksi kopi nasional. Sudah begitu, panen kopi arabika di Tanah Air diperkirakan juga baru akan dimulai pada bulan Oktober mendatang.
Dengan begitu, tampaknya eksportir kopi nasional akan mengalami keterlambatan dalam memenuhi pasokan kopi arabika di pasar dunia. Alhasil, mereka pun harus menahan dulu hasratnya untuk mendapatkan keuntungan dari mengekspor kopi arabika. Sayang, memang. Padahal, menurunnya pasokan kopi arabika dari Brasil dan Vietnam, itu adalah kesempatan bagi Indonesia untuk ‘unjuk gigi’ di kancah perdagangan kopi arabika dunia.
Pemerintah sendiri, sesungguhnya, sudah sejak lama ingin menggenjot pertumbuhan industri kopi arabikan nasional. Berbagai cara pun pemerintah lakukan. Di tahun ini, misalnya, pemerintah memberikan bantuan dana kepada para petani di sejumlah daerah untuk memperluas kebun kopi
arabikaya. Sebut saja, misalnya, Sumatera Utara yang pada tahun ini mendapat alokasi dana bantuan
sebesar Rp 4,75 miliar untuk perluasan kebun kopi arabika petani di lima kabupaten. Kasubdis Bina Produksi Dian Perkebunan Sumatera Utara, Herawati, mengatakan lima kabupaten yang akan mendapat jatah dari pemerintah pusat untuk perluasan tanaman kopi arabikanya adalah Mandailing Natal seluas 150 hektar, Tapanuli Selatan 125 hektar, Simalungun 100 hektar, serta Tapunuli Utara dan Dairi masing-masing 50 hektar.
Sejatinya, niat baik pemerintah memberikan bantuan modal untuk perluasan tanaman kopi arabika adalah sebuah keputusan yang tepat. Bukan apa-apa, soalnya selama ini sekitar 70% perdagangan kopi dunia didominasi oleh kopi arabika. Sedangkan robusta hanya menguasai pasar 30%. Selain itu, ya itu tadi, harga jual kopi arabika lebih mapan ketimbang kopi robusta. Sampai di sini, jelas, Indonesia memang sudah seharusnya meningkatkan luas areal perkebunan kopinya, khususnya jenis arabika. Apalagi, dalam empat tahun belakangan ini, luas areal perkebunan kopi di tanah air, juga cenderung menyusut. Jika pada 2002 luas perkebunan kopi masih mencapai 1,37 juta hektar, namun pada 2006 luas menciut menjadi 1,26 juta hektar, atau turun 8,73%. Nah, jika areal perkebunan kopi bisa diperluas, bukan mustahil hal itu juga akan mengatrol skala produksi kopi nasional. Sebagaimana diketahui, produksi kopi nasional pada 2006 mencapai 653.400 ton, naik 2,03% dari tahun sebelumnya. Setiap tahun, ekspor kopi Indonesia berkisar antara 300.000-450.000 ribu ton. Perkebunan rakyat merupakan pemasok terbesar dengan volume 627.500 ton atau 96,1% dari total produksi. Jika produksi kopi Indonesia lebih banyak disumbang oleh perkebunan rakyat, sejatinya pula, hal itu bukan tanpa sebab. Saat ini, areal perkebunan kopi di dalam negeri sebagian besar adalah perkebunan rakyat (PR) dengan luas 1,2 juta hektar atau 95,8% dari total areal tanam. Lalu, perkebunan swasta (PBS) seluas 26.800 hektar (2,1%) dan perkebunan negara (PBN) dengan luas 26,4 hektar (2%).
Di jalur perniagaan kopi dunia, sejatinya pula, Indonesia merupakan salah satu produsen utama.
Sejarah mencatat, sejak tahun 1984, ekspor kopi Indonesia menduduki nomor tiga tertinggi setelah Brasil dan Kolombia. Adapun negara-negara tujuan ekspor kopi Indonesia, di antaranya adalah Amerika Serikat. Pada 2005, misalnya, negeri Paman Sam itu mengimpor 84.420 ton kopi dari Indonesia, atau 18,9% dari total ekspor kopi pada tahun tersebut yang mencapai sekitar 445.900 ton. Berikutnya adalah Jerman dengan 78.750 ton (17,7%), Jepang 49.930 ton (11,2%), dan Italia 30.500 ton (6,8%).
Namun sayangnya, pada 1997, posisi Indonesia direbut oleh Vietnam. Sejak setelah itu, Indonesia
pun harus puas berada di peringkat ke-4 sebagai produsen kopi dunia hingga sekarang. Ada catatan menarik yang disampaikan Reni Kustiari, Mahasiswa Strata 3 (S3) Institut Pertanian Bogor jurusan Program Studi Ekonomi Pertanian dalam ujian sidang disertasinya yang berjudul ‘Analisis Ekonomi tentang posisi dan Prospek Kopi Indonesia di Pasar Internasional’ pada Januari silam. Katanya, pergeseran posisi Indonesia oleh Vietnam itu disebabkan ketatnya persaingan antarprodusen kopi dunia dan kelengahan Indonesia dalam mengamati posisinya di pasar internasional.
Selain itu, peningkatan posisi Vietnam juga didukung oleh produktivitas kopinya yang terbilang tinggi, yakni 3,5 ton per hektar. Sementara, Indonesia hanya sekitar 900 kilogram per hektar. Ironis, memang. Padahal, sebelum menjadi produsen kopi dunia, Vietnam justru belajar menanam kopi kepada Indonesia.
Nuril Hakim, Wakil Ketua Umum AEKI, pernah mengatakan bahwa sebelum tahun 1993, Vietnam tidak memiliki perkebunan kopi. Tapi, enam tahun setelah itu, produksi kopi Vietnam justru lebih tinggi ketimbang Indonesia. Hal itu terjadi lantaran kegigihan para petani di Vietnam dalam mengolah dan merawat kebun kopi mereka.
Berkaca dari keberhasilan petani di Vietnam, sudah seyogianya para petani dan pengusaha kopi di sini juga mengambil langkah serupa untuk lebih giat lagi meningkatkan produktivitas tanaman kopinya. Dan, jika melihat tren perdagangan kopi dunia yang saat ini cenderung didominasi oleh kopi jenis arabika, mereka juga harus berani mengubah pola tanamnya dari kopi robusta ke arabika.

Bila cara itu bisa memberi keuntungan yang lebih baik bagi para petani, niscaya pemerintah juga akan meningkatkan iklim usaha yang mendukung terhadap perkembangan industri kopi nasional. Apalagi, pemeritah juga telah menyatakan bahwa ekspor kopi masih menjadi salah satu andalan devisa negara dari sektor agrobisnis.

Leave a Comment